Saturday, January 9, 2010

CONTOH PTK, CONTOH PROPOSAL PTK, CONTOH PROPOSAL, PTK SD, PROPOSAL PTK SD

Contoh Proposal PTK

BAB I

PENDAHULUAN

A. Latar Belakang Masalah

Pendidikan di Sekolah Dasar (SD) bertujuan memberikan bekal kemampuan dasar “baca tulis hitung”, pengetahuan dan keterampilan dasar yang bermanfaat bagi siswa yang sesuai dengan tingkat perkembangannya serta mempersiapkan mereka untuk mengikuti pendidikan di SLTP. Terkait dengan tujuan memberikan bekal kemampuan dasar “baca tulis” maka peranan pengajaran Bahasa Indonesia di SD menjadi sangat penting. Pembelajaran Bahasa Indonesia tidak hanya pada tahap keberwacanan (di kelas I dan kelas II) tetapi juga pada tercapainya kemahiran wacanan (di kelas-kelas tinggi atau kelas III sampai kelas VI SD).

Hakikatnya belajar bahasa adalah belajar komunikasi, oleh sebab itu pembelajaran Bahasa Indonesia diarahkan untuk meningkatkan keterampilan siswa dalam berkomunikasi dengan bahasa yang baik dan benar, baik secara lisan maupun tertulis (Kurikulum Pendidikan Dasar GBPP Kelas II, 1994:20).

Belajar Bahasa Indonesia siswa harus menguasai empat keterampilan berbahasa, yaitu: keterampilan menyimak, berbicara, membaca, dan menulis. Pembelajaran Bahasa Indonesia di Sekolah Dasar (SD) yang mempunyai peran penting adalah aspek keterampilan menulis (Zuchdi, 1997:100). Sedangkan menurut Ary (2004) tersedia dalam http://pikiran rakyat.net., kegiatan berbahasa tersulit adalah menulis. Sebab, menulis ini tidak hanya melibatkan representasi grafis pembicaraan, tetapi juga pengembangan dan presentasi pemikiran secara terstruktur.

Keterampilan menulis merupakan salah satu keterampilan berbahasaan yang harus dimiliki oleh para siswa yang sedang belajar mulai tingkat pendidikan dasar (SD) sampai perguruan tinggi (PT). Keterampilan menulis sifatnya fungsional bagi pengembangan diri untuk kehidupan masyarakat. Menurut Harris (1988) tersedia dalam http://pakguruonline.pendidikan.net., membuat kalimat termasuk ke dalam kegiatan untuk keterampilan menulis, karena itu membuat kalimat juga berarti mengungkapkan ide dan berkomunikasi dengan orang lain melalui simbol-simbol bahasa. Dalam membuat kalimat perlu memperhatikan dua hal, yaitu substansi dari hasil tulisan (ide yang diekspresikan) dan aturan struktur bahasa yang benar (grammatical form and syntactic pattern). Unsur-unsur pembentuk kalimat seperti subyek, predikat, obyek dan keterangan dengan benar dan jelas bagi pembaca, mengungkapkan gagasan utama secara jelas, membuat teks koheren, sehingga orang lain mampu mengikuti pengembangan gagasan serta memperkirakan pengetahuan yang dimiliki target pembaca.

Data menunjukkan bahwa kemampuan siswa membuat kalimat tanya Bahasa Indonesia sangat memprihatinkan atau masih rendah, yaitu dari 29 siswa hanya 12 siswa yang mendapat nilai 70 setelah diadakan tes awal kemampuan siswa dalam membuat kalimat Bahasa Indonesia pada tanggal 12 Februari 2008 atau hanya 41% siswa yang memenuhi KKM.

Rendahnya kemampuan siswa dalam membuat kalimat tanya Bahasa Indonesia ini disebabkan oleh beberapa hal, antara lain: kurangnya latihan yang diberikan guru, pelaksanaan kegiatan belajar mengajar di kelas kurang bervariasi dan kurangnya tugas yang diberikan oleh guru.

Nursidik K. (2007) dalam http://howitzer’ssitenet.,.karakteristik usia SD senang bermain. Karakteristik ini menuntut guru SD untuk melaksanakan kegiatan pendidikan yang bermuatan permainan lebih-lebih untuk kelas rendah. Permainan menurut Carrier (1982) tersedia dalam http://pakguruonline.pendidikan.net., mempunyai nilai yang sangat tinggi bagi guru bahasa, sebab permainan memberikan kesempatan kepada siswa untuk menggunakan keterampilan bahasa tertentu dengan situasi yang tidak terlalu formal. Sedangkan menurut Hadfield (1984) tersedia dalam http://pakguruonline.pendidikan.net., permainan merupakan aktivitas yang mempunyai tujuan dan elemen kesenangan. Menurut Frieda (2007) seorang staf pengajar psikologi UI dalam acara Forum Nasional di Depok tersedia di http://kategoriberita.net., pada saat melakukan permainan terlihat gembira dan tertawa. Tertawa sebelum belajar adalah bukan sesuatu hal yang buruk. Suasana gembira justru membangkitkan semangat . Bobbi DePorter dan Mike Hernacki, dalam Quantum Learning, membahasakan kegembiraan itu dengan terbangunnya emosi positif. Emosi positif akan membuat otak dapat bekerja secara optimal (Hernowo, 2007:27). Menurut Meier dalam Menjadi Guru Yang Mau dan Mampu Mengajar Secara Menyenangkan oleh Hernowo (2007), pembelajaran yang menyenangkan adalah pembelajaran yang dapat membawa perubahan terhadap diri si pembelajar.

Berdasarkan latar belakang di muka, maka peneliti berkeinginan melakukan PTK dengan judul “Meningkatkan Keterampilan Membuat Kalimat Tanya Pada Siswa Kelas III Melalui Permainan Kartu di SD Negeri **********”. peneliti ingin mencoba mengubah tradisi lama ke arah yang lebih baru, kondusif dan komunikatif.

B. Fokus Penelitian

Berdasarkan latar belakang di muka, maka peneliti ini akan berfokus pada hal-hal yang bekaitan dengan permainan kartu untuk mengefektifkan pembelajaran Bahasa Indonesia sehingga secara khusus dapat meningkatkan keterampilan membuat kalimat tanya pada siswa kelas **** di Sekolah Dasar. Kejelasan fokus penelitian ini akan tampak dalam pertanyaan penelitian dan tujuan berikut ini.

  1. Pertanyaan Penelitian
  1. Apakah penggunaan Permainan Kartu dalam pembelajaran dapat memotivasi siswa dalam mengikuti pembelajaran Bahasa Indonesia?
  2. Apakah penggunaan Permainan Kartu dalam pembelajaran dapat meningkatkan keterampilan membuat kalimat Tanya Bahasa Indonesia pada siswa kelas **** SDN ***********?

  1. Tujuan Penelitian

Fokus penelitian di atas dapat dirumuskan sebagai berikut.

  1. Meningkatkan motivasi siswa dalam pembelajaran Bahasa Indonesia melalui permainan kartu.
  2. Meningkatkan keterampilan membuat kalimat Tanya Bahasa Indonesia melalui permainan kartu pada siswa kelas **** SDN ************
  1. Manfaat Penelitian

Hasil penelitian tindakan kelas ini dapat memberikan konstribusi dan mamfaat.

  1. Bagi Siswa

Penelitian ini dapat meningkatkan keterampilan siswa dalam berbahasa khususnya keterampilan membuat kalimat tanya. Selain itu, melalui permainan kartu siswa termotivasi dalam mengikuti pembelajaran Bahasa Indonesia. Menghilangkan anggapan bahwa belajar bahasa itu membosankan.

  1. Bagi Guru

Penelitian ini dapat memacu guru agar lebih kreatif dalam menggunakan metode pembelajaran dan penggunaan alat peraga dalam pembelajaran.

  1. Bagi Sekolah

Penelitian ini dapat meningkatkan mutu pembelajaran di sekolah, khususnya pada mata pelajaran Bahasa Indonesia. Sekolah dapat meningkatkan fasilitas pembelajaran yang dibutuhkan siswa dan guru.

  1. Batasan atau Penegasan Istilah

Menghindari terjadinya kesalahan penafsiran istilah dalam memahami inti masalah dalam penelitian ini, ditegaskan arti dari beberapa istilah yang digunakan. Adapun istilah-istilah tersebut adalah sebagai berikut.

  1. Meningkatkan adalah proses upaya-upaya kegiatan yang dilakukan supaya terjadi suatu perubahan ke arah yang lebih baik dan atau bertambahnya sesuatu perubahan dari segi jumlah/kuantitas.
  2. Keterampilan adalah kecakapan atau kemampuan melakukan sesuatu tugas pada siswa.
  3. Membuat adalah mengadakan (menghasilkan, menjadikan) sesuatu benda (Barang, dsb).
  4. Kalimat adalah satuan gramatikal yang dibatasi oleh adanya jeda panjang yang disertai nada akhir naik atau turun.
  5. Tanya adalah permintaan keterangan (penjelasan).
  6. Pembelajaran adalah suatu kegiatan guru dalam memilih menetapkan, mengembangkan metode/strategi yang optimal untuk mencapai hasil belajar siswa yang diinginkan.
  7. Permainan adalah perbuatan yang dilakukan dengan tidak bersungguh-sungguh atau biasa saja.
  8. Kartu adalah kertas yang berbentuk persegi panjang dengan ukuran yang relatif sesuai kebutuhan dan tujuan pembelajaran yang terdiri dari: kartu huruf, kartu suku kata, kartu kata, dan kartu kalimat.

BAB II
TINJAUAN PUSTAKA
  1. A. Kajian Teori
    1. 1. Pembelajaran Humanistik

Belajar lebih dari sekedar mengingat. Bagi siswa untuk dapat benar-benar mengerti dan dapat menerapkan ilmu pengetahuan, mereka harus belajar untuk memecahkan masalah, menemukan sesuatu bagi dirinya sendiri, dan selalu bergaul dengan ide-ide. Tugas pendidikan tidak hanya menuangkan sejumlah informasi ke dalam benak siswa, tetapi mengusahakan menanamkan konsep yang penting dalam diri siswa.

Pandangan tentang pembelajaran Humanistik, ada 3 yaitu:

  1. Pandangan Progresif

Pandangan progresif memfokuskan kepada anak sebagai orang yang mau belajar daripada sebagai subyek belajar. Masyarakat pendidikan menghendaki agar pengajaran memperhatikan minat, kebutuhan dan kesiapan anak untuk belajar, dan dimaksudkan untuk mencapai tujuan-tujuan sosial sekolah. John Dewey sebagai tokoh progresif memandang siswa sebagai makhluk sosial yang aktif dan ingin memahami lingkungan di mana siswa berada, lingkungan kehidupan manusia secara personal maupun kolektif (sosial).

Menurut Dewey (Tilaar:2000) dalam Pembelajaran Berwawasan Kemasyarakatan (Ihat, 2007:1.16), pendidikan merupakan proses sosial bagi orang yang belum dewasa (dalam hal ini anak-anak) untuk menjadi bagian yang aktif dan partisipatif dalam masyarakat. Sekolah adalah lingkungan khusus, yang dibentuk oleh anggota masyarakat dengan tujuan untuk menyederhanakan, memudahkan dan menyatukan pengalaman-pengalaman sosial agar dapat dipahami, diuji dan digunakan oleh anak itu sendiri dalam kehidupan sosial.

Kemampuan sosial dan personal siswa dikembangkan melalui pendidikan. Pendidikan adalah membangun dan mengorganisasikan kembali pengalaman yang mampu memberikan makna terhadap kehidupan siswa dan dapat meningkatkan kemampuan siswa dalam memecahkan persoalan-persoalan yang dihadapi di masa yang akan datang.

Pandangan progresif menghendaki perubahan dalam situasi pendidikan, anatara lain: memberikan kesempatan siswa untuk belajar secara perseorangan, belajar melalui pengalaman, memberi motivasi bukan perintah, melibatkan siswa dalam situasi sekolah, dan menyadarkan murid bahwa hidup itu dinamis (selalu berubah).

Terdapat lima prinsip pendidikan progresif dalam Ihat Hatimah (2007:1.18), yaitu; (1) berikan kebebasan kepada anak untuk berkembang secara alamiah, (2) minat, dan pengalaman langsung merupakan rangsangan yang paling baikuntuk belajar, (3) guru memiliki peran sebagai nara sumber dan pembimbing kegiatan belajar, (4) mengembangkan kerjasama antara sekolah dengan keluarga, (5) sekolah progresif harus menjadi laboratorium reformasi dan pengujian pendidikan.

  1. Pandangan Sosiokultural Konstruktivis

Konstruktivisme lahir dari gagasan Piaget dan Vygotsky, di mana keduanya menekankan bahwa perubahan kognitif hanya terjadi jika konsepsi-konsepsi yang telah dipahami sebelumnya diolah melalui suatu proses ketidakseimbangan dalam upaya memahami informasi-informasi baru. Konstruktivis modern banyak berlandaskan pada teori Vygotsky, yang telah digunakan dalam menunjang metode pengajaran yang menekankan pada pembelajaran kooperatif, pembelajaran berbasis proyek, dan penemuan.

Menurut Ihat Hatimah (2007:1.24), teori konstruktivis modern terbagi atas empat prinsip kunci yaitu: (1) penekanannya pada hakikat sosial dari pembelajaran, (2) ide bahwa belajar paling baik apabila konsep itu berada dalam zona perkembangan mereka, (3) adanya penekanan pada keduanya, yaitu hakikat sosial dari belajar dan zona perkembangan terdekat yang dinamakan dengan pemagangan kognitif, (4) proses pembelajaran menekankan kemandirian atau belajar menggunakan media.

Paradigma konstruktivistik memandang siswa sebagai pribadi yang sudah memiliki kemampuan awal sebelum mempelajarai sesuatu. Kemampuan awal tersebut akan menjadi dasar dalam mengonstruksi pengetahuan yang baru.

  1. Pandangan Ki Hadjar Dewantoro

Pendidikan adalah upaya untuk memerdekakan manusia dalam arti bahwa menjadi manusia yang mandiri, agar tidak tergantung kepada orang lain baik lahir ataupun batin. Kemerdekaan yang dimaksudterdiri dari tiga macam, yaitu; berdiri sendiri, tidak tergantung pada orang lain, dan dapat mengatur dirinya sendiri (Ihat Hatimah, 2007:1.34).

Salah satu pikiran Ki Hadjar Dewantoro tentang pendidikan diwujudkan dalam bentuk Taman Siswa. Lahirnya pendidikan Taman Siswa diilhami oleh model pendidikan barat yang tidak menyelesaikan persoalan peningkatan kualitas sumber daya manusia waktu itu. Menurut Ki Hadjar Dewantoro, pendidikan barat memiliki ciri; perintah, hukuman dan ketertiban.

Pendidikan pada Taman Siswa tidak menggunakan pendekatan paksaan. Dasar pendidikan yang dipergunakan adalah Momong, Among, dan Ngemong. Dalam hal ini tidak ada paksaan terhadap siswa tetapi lebih kepada membimbing dan memimpin meskipun pada hal-hal tertentu peran tersebut juga tidak diperlukan. Siswa berkembang sesuai dengan kodratnya, sehingga peran guru sebagai pendamping dan orang yang membantu mengarahkan siswa sesuai dengan perkembangannya (Ihat Hatimah, 2007:1.35).

Beberapa falsafah yang dikemukakan Ki Hadjar Dewantoro berkenaan dengan pendidikan: (1) Segala alat, usaha dan juga cara pendidikan harus sesuai dengan kodratnya, (2) kodratnya itu btersimpan dalam adat istiadat setiap masyarakat dengan berbagai kekhasan yang kesemuanya itu bertujuan untuk mencapai hidup tertib dan damai, (3) adat istiadat sifatnya dinamis, (4) untuk mengetahui karakteristik masyarakat saat ini diperlukan kajian mendalam tentang kehidupan masyarakat tersebut di masa lampau, sehingga dapat diprediksi kehidupan yang akan datang pada masyarakat, (5) perkembangan budaya masyarakat akan dipengaruhi oleh unsur-unsur lain, hal ini terjadi karena terjadinya pergaulan antar bangsa.

Langkah-langkah pembelajaran yang dikemukakan oleh Suciati dan Prasetya Irawan (2001) dengan pendekatan teori humanistik:

  1. Menetukan tujuan-tujuan pembelajaran.

b. Menetukan materi pelajaran.

  1. Mengidentifikasi kemampuan awal siswa.

d. Mengidentifikasi topik-topik pelajaran yang memungkinkan siara aktif melibatkan diri dalam belajar.

  1. Merancang fasilitas belajar seperti lingkungan dan media pembelajaran.
  2. Membimbing siswa belajar secara aktif.

g. Membimbing siswa untuk memahami hakikat atau makna dari pengalaman belajar.

h. Membimbing siswa membuat konseptualisasi pengalaman belajarnya.

  1. Membimbing siswa dalam mengaplikasikan konsep-konsep baru ke dalam situasi nyata.
  2. Mengevaluasi proses dan hasil belajar (Ihat hatimah, dkk, 2007:1.10).

Pembelajaran humanistik ini adalah pembelajaran yang memanusiakan manusia. Pembelajaran yang bertujuan untuk mengaktualisasi diri si pembelajar. Guru harus menyadari bahwa siswa adalah makhluk yang berbakat dan berkembang. Pengajaran beralih ke arah penyelenggaraan sekolah progresif, sekolah kerja, sekolah pembangunan, dan sekolah yang menggunakan CBSA (Cara Belajar Siswa Aktif). Proses belajar mengajar melibatkan siswa. Materi disesuaikan dengan pengetahuan dasar yang dimiliki siswa. Guru hendaknya mengenal, menyelami kehidupan jiwa siswa dan menyadari bahwa ia mengajarkan sesuatu kepada manusia-manusia yang berharga dan berkembang. Proses belajar ditujukan untuk memanusiakan manusia itu sendiri, maksudnya adalah mencapai aktualisasi diri, pemahaman diri, serta realisasi diri orang yang belajar secara optimal. Hal ini sesuai dengan pandangan pembelajaran humanistik progresif.

  1. 2. Belajar

Belajar adalah terjadinya perubahan pada diri orang belajar karena pengalaman (Darsono, dkk, 2000:4). Pembelajaran adalah suatu kegiatan yang dilakukan oleh guru sedemikian rupa, sehingga tingkah laku siswa berubah kearah yang lebih baik (Darsono, dkk, 2000:24). Ada beberapa definisi belajar menurut beberapa pakar psikologi pendidikan dalam Moh. Rosyid (2006:9) diantaranya Gagne (1977), belajar merupakan perubahan kecakapan yang berlangsung dalam periode tertentu yang bukan berasal dari proses pertumbuhan (fisik). Morgan, at.al (1986), belajar merupakan perubahan relatif permanen karena hasil praktek atau pengalaman. Slavein (1994), belajar merupakan perubahan individu yang disebabkan oleh pengalaman (experience). Menurut Slameto dalam Syaiful Bahri (2002:13), belajar adalah suatu proses usaha yang dilakukan individu untuk memperoleh suatu perubahan tingkah laku yang baru secara keseluruhan, sebagai hasil pengalaman individu itu sendiri dalam interaksi dengan lingkungannya. Menurut Skinner (1985) dalam Muhibbin Syah (2000:89), belajar adalah suatu proses adaptasi atau penyesuaian tingkah laku yang berlangsung secara progresif.

Habermas (Rene, 1996), belajar baru terjadi jika ada interaksi antara individu dengan lingkungannya. Lingkungan belajar yang dimaksud adalah lingkungan alam maupun lingkungan sosial sebab keduanya tidak dapat dipisahkan (IhatHatimah, ddk: 1.8). James O. Wittaker dalam Wasty Soemanto (1999:104), belajar sebagai proses dimana tingkah laku ditimbulkan atau diubah melalui latihan atau pengalaman. Belajar merupakan proses dasar dari perkembangan hidup manusia, dengan belajar manusia melakukan perubahan-perubahan kualitatif individu sehingga tingkah lakunya berkembang. Semua aktifitas dan prestasi hidup manusia adalah hasil dari belajar. Belajar adalah suatu proses bukan suatu hasil. Karena itu belajar berlangsung secara aktif dan integratif dengan menggunakan berbagai bentuk perubahan untuk mencapai suatu tujuan.

Berdasarkan pengertian di muka, belajar adalah kegiatan/proses manusia untuk berubah menjadi lebih baik, dari tidak tahu menjadi tahu. Kegiatan belajar terjadi terus menerus atau belajar sepanjang hayat. Memahami keadaan lingkungan itu juga merupakan kegiatan belajar. Lingkungan belajar mempunyai pengaruh yang besar terhadap hasil belajar siswa. Lingkungan yang dimaksud adalah lingkungan alam dan lingkungan sosial. Keduanya tidak dapat dipisahkan karena saling mempengaruhi.

  1. 3. Pembelajaran Bahasa Indonesia

Menurut M. Ngalim Purwanto (1997:4) dalam metodologi pengajaran Bahasa Indonesia, menyebutkan bahwa bahasa memungkinkan manusia untuk saling berhubungan (berkomunikasi), saling berbagi pengalaman, saling belajar dari orang lain, memahami orang lain, menyatakan diri, dan meningkatkan kemampuan intelektual. Mata pelajaran Bahasa Indonesia adalah program untuk mengembangkan pengetahuan, mempertinggi kemampuan berbahasa, dan menumbuhkan sikap positif terhadap Bahasa Indonesia.

Achmad Alfianto (2006) yang tersedia dalam http://re-researcengines.com, menyebutkan bahwa pendidikan Bahasa Indonesia merupakan salah satu aspek penting yang perlu diajarkan kepada para siswa di sekolah. Oleh karena itu, mata pelajaran Bahasa Indonesia diibaratkan seperti ulat yang hendak bermetamorfosis menjadi kupu-kupu.

M. Ngalim Purwanto (1997:4) juga menyebutkan ruang lingkup pembelajaran bahasa Indonesia meliputi:

  1. Penguasaan Bahasa Indonesia;
  2. Kemampuan memahami;
  3. Keterampilan berbahasa/menggunakan bahasa untuk segala macam keperluan;
  4. Apresiasi sastra.

Menurut M. Ngalim Purwanto (1997:5) pembelajaran Bahasa Indonesia memiliki tujuan, antara lain:

1) Tujuan umum

  1. Siswa menghargai dan membanggakan Bahasa Indonesia sebagai bahasa persatuan (nasional) dan bahasa negara.
  2. Siswa memahami bahasa dari segi bentuk, makna, dan fungsi, untuk bermacam tujuan/keperluan dan keadaan.
  3. Siswa memiliki kemampuan menggunakan Bahasa Indonesia untuk meningkatkan kemampuan intelektual (berpikir kreatif, menggunakan akal sehat, menerapkan pengetahuan yang berguna; memecahkan masalah, kematangan emosional, dan sosial).
  4. Siswa mampu menikmati dan memanfaatkan karya sastra untuk mengembangkan kepribadian, memperluan wawasan kehidupan, serta meningkatkan pengetahuan dan kemampuan berbahasa

2) Tujuan khusus

  1. Tujuan khusus dalam lingkup kebahasaan
    1. Siswa memahami cara penulisan kata-kata berimbuhan, kata ulang, dan tanda baca dalam kalimat.
    2. Siswa memahami bentuk dan makna imbuhan.
    3. Siswa memahami ciri-ciri kalimat berita dan kalimat perintah.
    4. Siswa memahami ucapan kalimat langsung dan tidak langsung.
    5. Siswa memahami dan dapat mengaplikasikan makna kata umum dan kata khusus.
    6. Siswa memahami dan dapat menggunakan makna ungkapan dan peribahasa.
    7. Siswa memahami perbedaan dan dapat menggunakan sinonim dan antonim.
    8. Siswa mampu membedakan bentuk puisi, prosa, dan drama secara sederhana dan dapat menikmatinya.
    9. Tujuan khusus dalam lingkup pemahaman bahasa
      1. Siswa mampu memperoleh informasi dan memberi tanggapan dengan tepat dalam berbagai hal kegiatan (mendengarkan, bercakap-cakap, membaca, dan menulis).
      2. Siswa mampu menyerap pengungkapan perasaan orang lain secara lisan dan memberi tanggapan yang cepat dan tepat.
      3. Siswa mampu menyerap pesan, gagasan, dan pendapat orang lain dari berbagai sumber, baik tertulis maupun lisan.
      4. Siswa memperoleh kenikmatan dan manfaat dari mendengarkan.
      5. Memahami dan dapat mengevaluasi isi bacaan dengan tepat.
      6. Siswa mampu mencari sumber, mengumpulkkan, dan menyerap informasi yang diperlukannya.
      7. Siswa mampu menyerap isi dan pengungkapan perasaan melalui bacaan dan menanggapinya secara tepat.
      8. Siswa memiliki kegemaran membaca untuk meningkatkan pengetahuan dan manfaatnya dalam kehidupan sehari-hari dan membaca karya-karya sastra.
      9. Tujuan khusus daam lingkup penggunaan
        1. Siswa mampu memberikan berbagai informasi secara lisan.
        2. Siswa mampu mengungkapkan gagasan, pendapat, pengalaman dan pesan secara lisan.
        3. Siswa mampu mnegungkapkan perasaan secara lisan.
        4. Siswa mampu berinteraksi dan menjalin hubungan dengan orang lain secara lisan.
        5. Siswa memiliki kepuasan dan kesenangan berbicara.
        6. Siswa mampu menuangkan pengalaman dan gagasannya secara tertulis dengan jelas.
        7. Siswa mampu mengungkapkan perasaan secara tertulis dengan jelas.
        8. Siswa mampu menuliskan informasi sesuai dengan konteks keadaan.

Berdasarkan pengertian di muka, pembelajaran bahasa mempunyai peran yang sangat penting dalam kehidupan sehari-hari. Bahasa digunakan manusia untuk dapat berkomunikasi dengan orang lain. Pembelajaran Bahasa Indonesia merupakan kegiatan untuk menambah pengetahuan/informasi dari lingkungan sekitar dan membangun sifat positif terhadap Bahasa Indonesia sebagai bahasa persatuan.

  1. 4. Keterampilan Berbahasa

Keterampilan berbahasa meliputi empat keterampilan, yaitu: mendengar/menyimak, berbicara, menulis, dan membaca. Keterampilan tersebut merupakan keterampilan dasar bahasa. Bahasa dalam kehidupan sehari-hari berfungsi sebagai alat komunikasi dengan orang lain dan lingkungan. Komunikasi yang dilakukan dapat berupa komunikasi lisan dan tertulis.

4.1 Mendengar/menyimak

Mendengar dan menyimak materi yang disampaikan guru di depan kelas merupakan upaya seseorang untuk menyimpan informasi, informasi diterima melalui proses inderawi dan kemudian dikirim ke dalam memori yang pada suatu saat informasi itu dapat dipanggil atau digunakan lagi (Martinis, 2007:182).

Kegiatan mendengar dan menyimak tidak dapat dilakukan dengan kegiatan motorik lain, seperti mendengar yang disertai dengan kegiatan menulis atau kegiatan lain. Mendengar dan menyimak seseorang tidak akan mendapat hasil yang baik. Mendengar dan menyimak membutuhkan konsentrasi dan energi yang terpusat. Namun pendengaran seseorang diakui oleh para ahli tidak dapat diandalkan. Oleh sebab itu, dianjurkan dibuat catatan agar memudahkan seseorang untuk mengingat.

Kemampuan seseorang untuk berkonsentrasi dalam mendengar sajian, uraian, dan penjelasan dari seseorang sekitar 20 menit (Martinis, 2007:184). Sajian yang diberikan harus dibarengi dengan ilustrasi segar, humor, dan penyampaian materi harus penuh semangat, dan sedikit rileks.

Menurut Martinis dalam Kiat Membelajarkan Siswa (2007:188-190), memberikan kiat mendengar dan menyimak sebagai berikut.

1). Adanya keseriusan dan keinginan untuk mengetahui sesuatu informasi.

2) Kesiapan mental dan fisik untuk mendengar.

3) Menghindari dan tidak menanggapi gangguan yang datang.

4) Mencari gagasan pokok pembiacaraan dan kata kunci dari informasi yang disampaikan guru.

5) Memperhatikan petunjuk dan contoh yang diberikan guru di depan kelas.

6) Mencatat istilah-istilah, kata kunci, rumus-rumus, contoh-contoh yang penting.

7) Membiasakan dengan kata-kata yang baru.

8) Membaca materi yang akan disampaikan guru dalam pertemuan berikutnya.

9) Ajukan pertanyaan kepada guru, manakala pendengaran Anda samar-samar atau membingungkan.

10) Menghindari bercakap-cakap pada saat mendengar.

Berdasarkan pengertian di muka, mendengar/menyimak tidak dapat diikuti kegiatan motorik lainnya. Kegiatan menyimak membutuhkan konsentrasi tinggi agar informasi yang diperoleh dapat baik. Namun dianjurkan juga untuk membuat catatan kecil agar tidak lupa.

4.2 Berbicara/bercerita

Berbicara merupakan keterampilan berbahasa yang disampaikan secara lisan. Dalam kegiatan pembelajaran, keterampilan berbicara sangat penting untuk dapat berinteraksi antara guru dengan siswa melalui tanya jawab.

Kegiatan yang membutuhkan keterampilan berbicara antara lain: pidato, ceramah, dan bercerita. Penyampaian materi kepada para pendengar harus dilakukan dengan variasi. Hal ini dilakukan agar pendengar tidak merasa jenuh.

Berdasarkan pengertian di muka, berbicara adalah kegiatan manusia untuk berkomunikasi dengan orang lain secara verbal, baik untuk memperoleh informasi ataupun menyampaikan informasi.

4.3 Menulis

Menulis dapat didefinisikan sebagai suatu kegiatan penyampaian pesan (komunikasi) dengan menggunakan bahasa tulis sebagai alat atau medianya (Suparno, 2007:1.3). Menulis merupakan aktivitas menyusun serta merangkaikan kalimat sedemikian rupa agar pesan yang terkandung dapat disampaikan dengan baik kepada pembaca (Suroso, 2007:170). Kemampuan menulis merupakan salah satu aspek kemampuan berbahasa yang sangat penting dalam kehidupan manusia (Suroso, 2007:27). Dengan kemampuan itu, seseorang dapat mengungkapkan ide, pikiran, perasaan, dan kemampuannya kepada orang lain melalui tulisan. Mereka dapat berkomunikasi dengan orang lain tanpa harus berhadapan langsung dengan orang yang diajak berkomunikasi.

Keterampilan menulis dalam kehidupan modern sangat dibutuhkan. Dengan memiliki keterampilan menulis seseorang dapat merekam, mencatat, menyakinkan, melaporkan, memberitahukan, serta mempengaruhi orang lain.

Menulis sendiri sebenarnya bukanlah sesuatu yang asing bagi kita. Artikel, esai, laporan, resensi, karya sastra, buku, komik, dan cerita adalah bentuk dan produk bahasa tulis yang akrab dengan kehidupan kita. Tulisan-tulisan itu menyajikan secara runtut dan menarik, ide, gagasan, dan perasaan penulisnya.

Menurut Suparno (2007:1.4), manfaat yang dapat dipetik dari menulis antara lain:

  1. Peningkatan kecerdasan.
  2. Pengembangan daya inisiatif dan kreativitas.
  3. Penumbuhan keberanian.
  4. Pendorong kemauan dan kemampuan mengumpulkan informasi.

Menurut Graves (1978), seseorang enggan menulis karena tidak tahu untuk apa dia menulis, merasa tidak berbakat menulis dan merasa tidak tahu bagaimana menulis (Suparno, 2007:1.4). Ketidaksukaan tidak lepas dari pengaruh lingkungan keluarga dan masyarakatnya, serta pengalaman pembelajaran menulis atau mengarang di sekolah yang kurang memotivasi dan merangsang minat.

Smith (1981) mengatakan bahwa pengalaman belajar menulis yang dialami siswa di sekolah tidak terlepas dari kondisi gurunya sendiri (Suparno, 2007:1.4).

Berdasarkan pengertian di muka, menulis adalah suatu kegiatan mengekspresikan apa yang ada dalam pikiran kita ke dalam bentuk tulisan. Kegiatan menulis pada diri siswa masih harus ditingkatkan karena dengan menulis dapat meningkatkan daya kreativitas, kecerdasan, keberanian, dan menambah informasi siswa. rasa ingin tahu siswa muncul melalui kegiatan menulis.

Mengingat pentingnya keterampilan menulis bagi perkembangan siswa khususnya kelas **** SD, maka peneliti memfokuskan pada keterampilan membuat kalimat tanya. Hal ini disesuaikan dengan kurikulum kelas **** SD semester I.

4.4 Membaca

Membaca adalah suatu cara untuk mendapatkan informasi yang disampaikan secara verbal dan merupakan hasil ramuan pendapat, gagasan, teori-teori, hasil penelitian para untuk diketahui dan menjadi pengetahuan siswa (Martinis, 2007:106). Kemudian pengetahuan tersebut dapat diterapkan dalam berfikir, menganalisis, bertindak, dan dalam pengambilan keputusan.

Membaca membutuhkan konsentrasi, penguasaan kata-kata dan kecepatan membaca, membaca tidak dapat dilakukan dengan aktivitas lain, seperti membaca sambil menulis, mendengar, bercakap-cakap, dan lain-lain (Martinis, 2007:107). Salah satu aktivitas ini akan mengganggu membaca, mungkin saja seseorang dapat membaca sambil mendengar akan tetapi sasaran membaca tidak akan tercapai, terutama pemahaman bacaan, kualitas bacaan, isi bacaan.

Kemampuan membaca menurut Y.B. Sudarmanto (1993:38-39) sangat ditentukan oleh bahan yang dibaca. Semakin berat bahan bacaan semakin sedikit jumlah kata yang berhasil dibaca, semakin ringan bahan bacaan semakin banyak jumlah kata yang berhasil dibaca. Di Amerika penelitian tentang ini:

Tipe Bahan Bacaan Jumlah Kata per Menit
Bahan bacaan yang berat 100-150
Bahan bacaan yang sedang 200-225
Bahan bacaan yang ringan 250-350

(Martinis, 2007:119).

Berdasarkan pengertian di muka, membaca adalah suatu kegiatan manusia untuk mencari informasi secara verbal. Membaca membutuhkan konsentrasi yang tinggi dari pelaku. Kegiatan membaca akan mendapat hasil yang maksimal jika tidak diselingi dengan kegiatan yang lain seperti: menulis, mendengar, dan berbicara. Bahan bacaan yang dibaca mempengaruhi kecepatan dalam membaca. Semakin berat bahan bacaan yang dibaca waktu yang diperlukan juga semakin lama.

  1. 5. Kalimat

5.1 Pengertian Kalimat

Kalimat adalah kesatuan ujar yang mengungkapkan suatu konsep pikiran dan perasaan. Kalimat dapat diartikan sebagai perkataan atau satuan bahasa yang secara relatif berdiri sendiri, mempunyai pola intonasi final dan secara aktual/potensial terdiri atas klausa (Depdikbud, 1989:380).

Kalimat adalah satuan bahasa yang terdiri dari dua atau lebih yang mengandung satu pengertian dan mempunyai pola intonasi akhir (Angga, 2004:81). Kalimat itu ada yang terdiri atas satu kata atau lebih. Sesungguhnya yang menentukan satuan kalimat bukan banyaknya kata yang menjadi unsurnya, melainkan intonasinya. Menurut Ramlan (1996) setiap satuan kalimat dibatasi oleh adanya jeda panjang yang disertai nada akhir turun atau naik (Ida, 2007:20). Menurut Alwi, et. al. (1998) dan Kridalaksana (1985), wujud lisan, kalimat diucapkan dengan suara naik turun dan keras lembut, disela jeda, dan diakhiri dengan intonasi akhir yang diikuti oleh kesenyapan yang mencegah terjadinya perpaduan asimilasi bunyi ataupun proses fonologis lainnya. Dalam wujud tulisan, kalimat dimulai dengan huruf kapital dan diakhiri dengan tanda titik, tanda tanya, atau tanda seru (Ida, 2007:20).

Berdasarkan pengertian di muka, kalimat merupakan konstruksi besar yang terdiri atas satu kata atau lebih yang berdiri sendiri untuk mengungkapkan suatu konsep pikiran dan mempunyai pola.

5.2 Struktur Kalimat

Kemampuan membuat kalimat Bahasa Indonesia sederhana adalah kemampuan siswa dalam menuangkan ide atau gagasan dalam bentuk kalimat. Membuat kalimat perlu memperhatikan dua hal, yaitu substansi dari hasil tulisan itu (ide yang diekspresikan) dan aturan struktur bahasa yang benar (gramatical form and syntactic pattern). Menurut Harris (1988) yang tersedia dalam http://pakguruonli.pendidikan.net diakses pada tanggal 18 Nopember 2007, membuat kalimat termasuk ke dalam kegiatan untuk keterampilan menulis, karena membuat kalimat juga berarti mengungkapkan ide dan berkomunikasi dengan orang lain melalui simbol-simbol bahasa. Kalimat-kalimat yang dibuat dapat berupa kalimat yang paling sederhana. Menurut Suparman (1988), minimal kalimat terdiri atas unsur subyek dan perdikat. Kedua unsur kalimat itu merupakan unsur yang kehadirannya selalu wajib (Ida, 2007:21). Kalimat menjadi kuat dan efektif jika ada hubungan antara subyek dan predikatnya (Widyamartaya, 2006:21). Subyek dan predikat kalimat hendaknya tidak terpisah terlalu jauh agar kesatuan gagasan tetap terjamin.

Kalimat dasar identik dengan kalimat tunggal deklaratif afirmatif yang urutan unsur-unsurnya paling lazim (Alwi, et. al, 1998; Robert Burton, 1997; Chomsky, 1985; Valin dan Lapolla, 1997) mengatakan bahwa kalimat dasar terdiri atas sebuah frase benda (sebagai subyek) dan frase verba (sebagai predikat). Dalam Bahasa Indonesia terdapat lima struktur (pola) kalimat dasar, yaitu: KB + KB (Kata Benda + Kata Benda); KB + KK (Kata Benda + Kata Kerja); KB + KS (Kata Benda + Kata Sifat); KB + KBil (Kata Benda + Kata Bilangan); dan KB + KDep. (Kata Benda + Kata Depan). Pada pola tersebut, kata benda pertama menunjukkan subjek, sedangkan kata benda kedua, kata kerja, kata sifat, kata bilangan, dan kata depan sebagai predikat kalimat (Ida, 2007:25).

Kalimat sederhana mengandung dua jabatan kata dalam kalimat, yaitu subyek dan kata kerja (S + P); subyek, kata kerja dan obyek (S+P+O) atau kalimat yang paling lengkap, yaitu: subyek, kata kerja, obyek, dan keterangan (S+P+O+ Ket.). Keterangan harus ditempatkan setepat-tepatnya dan seterang-terangnya dalam kalimat sehingga tidak mengganggu pemahaman. Keterangan yang dimaksudkan disini mencakup atributif, aposisi, adverbial.

5.3 Macam-macam Kalimat

Menurut Angga (2004:81-89), macam-macam kalimat sebagai berikut:

5.3.1 Kalimat Berita

Kalimat berita ialah bentuk kalimat yang menyatakan suatu pernyataan berita, baik untuk diketahui diri sendiri atau orang lain.

Contoh: 1) Semalam hujan turun lebat.

2) Kemarin ayah pulang dari Jakarta.

5.3.2 Kalimat Tanya

Kalimat tanya ialah bentuk susunan kalimat yang masih belum lengkap, karena kalimat tersebut masih membutuhkan suatu jawaban sebagai bagian dari kalimat yang dimaksud.

Contoh: 1) Di mana kamu sekolah?

2) Berapa harga rambutan 1 Kg?

5.3.3 Kalimat Ajakan

Kalimat ajakan ialah bentuk susunan kalimat yang sebenarnya merupakan kalimat perintah yang diperluas dan berkaitan erat hubungan dengan orang kedua.

Contoh: 1) Tolong, bawakan tas ini.

2) Ayo, kita belajar bersama-sama.

5.3.4 Kalimat Perintah

Kalimat perintah ialah bentuk susunan kalimat yang menyatakan perintah atau suruhan yang dikerjakan oleh orang kedua serta punya hubungan yang erat sekali.

Contoh: 1) pergilah segera!

2) Buanglah sampah pada tempatnya!

5.3.5 Kalimat Permintaan

Kalimat permintaan ialah bentuk kalimat ajakan yang diperluas dan pada umumnya desebut juga kalimat permohonan.

Contoh: 1) Kumohon kamu mau menunggu selama 2 jam.

2) Kuharap para undangan berkenan memberikan doa restu kepada mempelai berdua.

5.3.6 Kalimat Perjanjian

Kalimat perjanjian ialah bentuk susunan kalimat di mana kalimat itu ada suatu persyaratan sehingga menjadi kalimat yang lengkap.

Contoh: 1) Bila kamu tidak nakal akan kupenuhi permintaanmu.

2) Lunasi hutangmu dulu baru kupinjami lagi.

5.3.7 Kalimat Aktif

Kalimat aktif ialah bentuk kalimat yang subyeknya melakukan pekerjaan yang mengenai langsung kepada obyeknya.

Contoh: 1) Kakak membeli sepeda.

2) Ibu menggoreng ikan.

5.3.8 Kalimat Pasif

Kalimat pasif ialah bentuk kalimat yang mana subyeknya dari kalimat tersebut menderita.

Contoh: 1) Tikus digigit kucing.

2) Tono terpeleset jatuh.

5.3.9 Kalimat Verbal

Kalimat verbal ialah kalimat yang predikatnya tidak termasuk kata benda.

Contoh: 1) Ayah membaca Al-Quran.

2) Ibu merebus singkong.

5.3.10 Kalimat Nominal

Kalimat nominal ialah kalimat yang predikatnya berupa kata benda.

Contoh: 1) Ini rumah Budi.

2) Ini sepeda baru.

5.3.11 Kalimat Pengharapan

Kalimat pengharapan ialah kalimat yang susunannya mengharapkan sesuatu.

Contoh: 1) Mudah-mudahan ayah cepat pulang.

2) Mudah-mudahan kamu baik-baik saja.

5.3.12 Kalimat Bersalah

Contoh: 1) Meskipun hujan deras, dia tetap masuk sekolah.

2) Walaupun dia anak orang kaya, namun tidak sombong.

5.3.13 Kalimat Pengandaian

Contoh: 1) Seandainya tidak hujan, aku pasti datang tepat waktu.

2) Seandainya kamu rajin belajar, pasti mendapat prestasi baik.

5.3.14 Kalimat Langsung

Kalimat langsung ialah kalimat yang langsung disampaikan oleh sumbernya atau yang mengucapkan, serta kalimat yang menggunakan tanda petik (“…..”).

Contoh: 1) “Berapa saudaramu semua?” tanya Dewi.

2) “Dimana kamu sekolah?” tanya Yuda.

5.3.15 Kalimat Tak Langsung

Kalimat tak langsung ialah kalimat yang tidak langsung disampaikan oleh sumbernya.

Contoh: 1) Ibu mengatakan bahwa saya harus istirahat.

2) Ima mengatakan kepada temannya bahwa ia tadi pagi dibelikan sepeda baru.

5.3.16 Kalimat Inti

Kalimat inti ialah kalimat yang terdiri dari subyek dan inti predikat.

Contoh: 1) Adik menyanyi.

2) Yuda merokok.

5.3.17 Kalimat Luas

Kalimat luas ialah kalimat yang terdiri dari subyek, predikat dan diperluas dengan satu atau beberapa unsur tambahan.

Contoh: 1) Anjing berlari kencang.

2) Adik menangis keras-keras.

5.3.18 Kalimat Tunggal

Kalimat tunggal ialah kalimat yang terjadi dari satu pola kalimat, yakni satu subyek dan satu predikat.

Contoh: 1) Rudi memancing.

2) Yuda berlari.

5.3.19 Kalimat Majemuk

  1. Kalimat Majemuk Setara ialah kalimat majemuk yang masing-masing penyusunnya dapat berdiri sendiri.

Contoh: 1) Kakak membeli buku dan tas.

2) Ani membeli topi dan sepatu.

b. Kalimat Majemuk Bertingkat ialah kalimat yang penyusunnya tidak dapat berdiri sendiri.

Contoh: 1) Gadis belia itu sedang lari pagi.

2) Ibu pergi ke pasar ketika ayah pulang dari kantor.

5.4 Kalimat Tanya

5.4.1 Pengertian Kalimat Tanya

Kalimat tanya ialah bentuk susunan kalimat yang belum lengkap, karena kalimat tersebut masih membutuhkan suatu jawaban sebagai bagian dari kalimat yang dimaksud (Angga, 2004:81). Kalimat tanya ialah kalimat yang dipergunakan dengan tujuan memperoleh reaksi berupa jawaban dari yang ditanya atau penguatan sesuatu yang telah diketahui oleh penanya. Kalimat tanya diucapkan dengan intonasi menarik pada suku kata akhir. Penulisan kalimat tanya diakhiri dengan tanda tanya (?).

Kalimat tanya dicirikan oleh empat hal, yaitu sebagai berikut:

  1. Penggunaan kata tanya: apa, siapa, di mana, bagaimana, mengapa, dan lain-lain.

Contoh: 1) Bagaimana kondisi pengungsi lumpur Lapindo saat ini?

2) Apa Anda sudah berpengalaman di bidang mesin?

b. Penggunaan kata bukan atau tidak.

Contoh: 1) Bukankah ini tas yang kamu bawa?

2) Tidakkah dia merasa aneh dengan sikapmu?

  1. Penggunaan klitika –kah pada predikat kalimat yang diubah susunannya SP PS.

Contoh: 1a) Ia lulus tahun ini.

1b) Luluskah ia tahun ini?

2a) Ia sudah Pulang.

2b) Sudah pulangkah ia?

d. Penggunaan intonasi naik pada suku kata akhir.

Contoh:

1a) Ayahnya terlibat perampokan.

1b) Ayahnya terlibat perampokan?

Berdasarkan pengertian di muka, kalimat tanya adalah kalimat yang digunakan dengan tujuan memperoleh reaksi berupa jawaban dari yang ditanya atau penguatan sesuatu yang telah diketahui oleh penanya. Dalam penulisan kalimat tanya selalu diakhiri dengan tanda tanya (?).

5.4.2 Jenis Kalimat Tanya dan Kata Tanya

1) Kalimat Tanya Klarifikasi dan Konfirmasi

Kalimat tanya klarifikasi (penegasan) dan kalimat tanya konfirmasi (penjernihan) ialah kalimat tanya yang disampaikan kepada orang lain untuk tujuan mengukuhkan dan memperjelas persoalan yang sebelumnya telah diketahui oleh penanya. Kalimat tanya ini tidak meminta penjelasan, tapi hanya membutuhkan jawaban pembenaran atau sebaliknya dalam bentuk ucapan ya atau tidak dan benar atau tidak benar.

Contoh kalimat tanya klarifikasi:

a) Benarkah Saudara yang memimpin penelitianmu?

b) Apa benar barang-barang ini milik Anda?

Contoh kalimat tanya konfirmasi:

a) Apakah Saudara mempunyai hubungan erat dengan terdakwa?

b) Apakah ini kunci mobil saudara?

2) Kalimat Tanya Retoris

Kalimat tanya retoris adalah kalimat tanya yang tidak memerlukan jawaban atau tanggapan langsung. Kalimat tanya retoris biasanya digunakan dalam pidato, khotbah, atau orasi. Pertanyaan retoris dikemukakan dengan bermacam-macam maksud sesuai dengan pokok pembicaraan. Pertanyaan retoris bertujuan untuk memberi semangat, menggugah hati, memotivasi, memberi kesadaran, dan sebagainya terhadap audiens atau pendengar.

Contoh kalimat retoris:

a) Apakah kita tega membiarkan mereka kelaparan?

b) Apakah nasib kita akan berubah tanpa ada usaha?

3) Kalimat Tanya Tersamar

Kalimat tanya tersamar adalah bentuk kalimat tanya yang mengacu pada bermacam maksud. Dengan kalimat tanya tersamar, penanya dapat menyampaikan berbagai tujuan seperti, memohon, meminta, menyindir, membiarkan, mengajak, menegaskan, menyetujui, menggugah, melarang, menyuruh, dan sebagainya.

Contoh:

a) Tujuan meminta:

1) Bolehkah saya tahu siapa namamu?

2) Dapatkah kamu menolong saya?

b) Tujuan mengajak:

1) Bagaimana kalau kamu ikut dalam perlombaan sains antarsekolah?

2) Dapatkah kamu menemaniku ke pesta itu nanti malam?

c) Tujuan memohon:

  1. Apakah kamu bersedia menerima lamaran saya?
  2. Bersediakah kamu meminjamkan motormu kepadaku?

d) Tujuan menyuruh:

  1. Bagaimana kalau kamu berangkat ke sekolah sekarang?
  2. Maukah kamu membuatkan kue bolu?

e) Tujuan merayu:

  1. Kapan saya bisa mengajak kamu jalan-jalan?
  2. Jadi kan kamu traktir saya makan hari ini?

f) Tujuan menyindir:

  1. Apa tidak ada orang yang lebih bodoh dari kamu?
  2. Begini caranya kamu berterima kasih?

g) Tujuan menyanggah:

  1. Apa dengan cara ini semua persoalan dapat selesai?
  2. Bagaimana jika kita mencari cara yang lain?

h) Tujuan menyakinkan:

  1. Mestikah saya bersumpah di hadapanmu?
  2. Apa selama ini kata-kata saya cuma pepesan kosong?

i) Tujuan menyetujui:

  1. Tak ada alasan untuk ditolak, bukan?
  2. Apa pantas hal ini saya abaikan?

4) Jenis Kalimat Tanya Biasa

Kalimat tanya biasa disebut juga kalimat tanya untuk menggali informasi. Kalimat untuk menggali informasi biasanya menggunakan kata tanya. Kata tanya yang dipergunakan, dirumuskan dengan 5W+1H, yaitu: what (apa), where (di mana), who (siapa), when (kapan), why (mengapa), dan how (bagaimana).

Contoh:

a) Apa yang menyebabkan terjadinya kebakaran ini?

b) Dari mana asal api?

c) Siapa yang pertama kali melihat kejadian ini?

d) kapan tepatnya peristiwa itu terjadi?

e) Mengapa pemadam kebakaran terlambat datang?

f) Bagaimana upaya warga menyelamatkan barang-barang dari kebakaran itu?

Menurut Sriwilujeng (2007:3), kata tanya yang diajarkan di kelas III SD adalah kata tanya biasa, antara lain:

1) Kata tanya apa digunakan untuk menanyakan peristiwa atau topik yang dibicarakan.

2) Kata tanya siapa digunakan untuk menanyakan orang.

3) Kata tanya di mana digunakan untuk menanyakan tempat kejadian.

4) Kata tanya kapan digunakan untuk menanyakan waktu kejadian.

5) Kata tanya bagaimana digunakan untuk menanyakan urutan kejadian atau cara melakukan sesuatu.

  1. 6. Permainan Kartu

6.1 Pengertian Permainan

Bermain diartikan sebagai melakukan sesuatu (dengan alat dsb) untuk bersenang-senang (Kamus Umum Bahasa Indonesia, 1984:620). Menurut Citra (2004) yang tersedia dalam http://citrahome.net diakses pada tanggal 26 Januari 2008, bermain itu menyenangkan karena dalam bermain bebas mengekspresikan perasaan-perasaannya, ide-ide ataupun fantasi-fantasinya yang kadang tidak selalu selaras dengan kenyataan yang sebenarnya. Ia dapat membuat aturan-aturan sendiri, menguasai lingkungan tempat ia bermain ataupun mengorganisir orang-orang atau benda-benda yang ikut terlibat dalam permainan yang sedang dilakukannya. Dalam bermain tidak merasa terpaksa atau ada suatu beban, juga tidak ada keharusan untuk mempedulikan hasil akhir dari bermain.

Menurut Sally (2007) yang tersedia dalam http://Pepak-pustaka.htm diakses pada tanggal 26 Februari 2008, perkembangan seorang sejak masa bayi, banyak keterampilan-keterampilan yang dimilikinya diperoleh melalui bermain. Misalnya dapat menggenggam mainannya dengan baik pada awalnya adalah karena orang tua/orang dewasa lain sering memperlihatkan mainan kepadanya, menggoyangkannya di hadapan dan mencoba meraih dan menangkap mainan tersebut. Melalui bermain dapat mengenal dunia sekitarnya baik orang-orang yang ada di sekitarnya maupun benda-benda yang ia temui dalam bermain.

Menurut Admin (2007) tersedia dalam http://kategori berita.net diakses pada tanggal 26 Januari 2008, permainan dapat memperluas interaksi sosial dan mengembangkan keterampilan sosial, yaitu belajar bagaimana berbagi, hidup bersama, mengambil peran, belajar hidup dalam masyarakat secara umum. Selain itu, permainan akan meningkatkan perkembangan fisik, koordinasi tubuh, dan mengembangkan serta memperhalus keterampilan motorik kasar dan halus. Permainan juga akan membantu memahami tubuhnya; fungsi dan bagaimana menggunakannnya dalam belajar, bisa mengetahui bahwa bermain itu menyegarkan, menyenangkan dan memberikan kepuasan. Permainan dapat membantu perkembangan kepribadian dan emosi karena mencoba melakukan berbagai peran, mengungkapkan perasaan, menyatakan diri dalam suasana yang tidak mengancam, juga memerhatikan peran orang lain. Melalui permainan dapat belajar mematuhi aturan sekaligus menghargai hak orang lain.

Frieda yang tersedia dalam http://kategoriberita.net yang diakses pada tanggal 26 Januari 2008, bahwa kegiatan bermain merupakan “laboratorium bahasa”. Di dalam bermain, bercakap-cakap satu dengan yang lain, berargumentasi, menjelaskan, dan meyakinkan. Jumlah kosakata yang dikuasai dapat meningkat karena mereka dapat menemukan kata-kata baru.

Jadi seorang yang sedang bermain berarti orang itu sedang melakukan suatu aktivitas yang menyenangkan bagi dirinya. Oleh karena bermain itu menyenangkan, tidak keberatan untuk beberapa kali mengulangi suatu permainan sehingga tanpa disadari sedang melatih diri untuk melakukan sesuatu yang terkandung dalam permainan yang dilakukannya berulang kali. Selain untuk kesenangan, ada manfaat-manfaat tertentu yang dapat diperoleh melalui bermain. Permainan dapat membantu perkembangan kepribadian dan emosi karena mencoba melakukan berbagai peran, mengungkapkan perasaan, menyatakan diri dalam suasana yang tidak mengancam, juga memerhatikan peran orang lain. Melalui permainan dapat belajar mematuhi aturan sekaligus menghargai hak orang lain.

6.2 Pengertian Kartu

Menurut Molly tersedia dalam http://nakita-panduan tumbuh kembang balita.net, sebagaimana permainan yang lain, bermain kartu memang bisa dinikmati karena cukup menarik dan mampu membuat menjadi rileks. Tak hanya itu, permainan pun dapat bertambah pengetahuannya sambil bermain. Secara general, Molly mengatakan, permainan kartu mengajarkan tentang:

1. Aturan

Aturan permainan kartu harus dipatuhi bersama. Bila tidak mampu memahami dengan baik aturan permainannya, bisa-bisa ia akan tertinggal atau kalah terus-menerus.

2. Kedisiplinan

Aturan harus disertai dengan disiplin. Misalnya, kapan saat dirinya membuang dan mengambil kartu. Tanpa disertai disiplin dapat merusak jalannya permainan.

3. Sportifitas

Permainan pasti ada yang kalah dan menang. Lewat permainan, diajarkan untuk menerima jika dirinya kalah dan bersedia untuk mengocok kartu atau bahkan dikenai sanksi lainnya seperti, dicoret dengan lipstik, bedak, atau yang lain. Sebaliknya, bila menang tidak boleh sombong.

4. Sosialisasi

Bermain kartu, hubungan pertemanan dapat terjalin lebih erat baik antara orang tua ­, kakak-adik, ataupun dengan teman sebaya.

5. Analisa sederhana

Terpacu untuk berpikir bagaimana caranya supaya bisa menang. Dengan demikian belajar memperkirakan, kartu yang mana yang harus dikeluarkan agar dirinya berhasil menang.

Menurut Andreas Sarwono (2003) tersedia dalam http://pakguruonline.pendidikan.net, Chain Card Game adalah sebuah terjemahaan bebas dari Permainan Kartu Berantai. Para pemain memainkan kartu ini layaknya seperti bermain kartu remi. Kartu permainan (Bahasa Inggris: playing cards), atau lebih dikenal dengan kartu remi, adalah sekumpulan kartu seukuran tangan yang digunakan untuk permainan kartu. Kartu ini sering juga digunakan untuk hal-hal lain, seperti sulap, enkripsi, permainan papan, dan pembuatan rumah kartu. Kata “remi” itu sendiri sebenarnya adalah nama salah satu permainan kartu. Sejumlah ahli sejarah menduga, kartu permainan remi hasil evolusi dari sejenis permainan catur yang dimainkan oleh para gembala di Asia Barat. Sambil menggembala, mereka bermain catur memakai kerikil. Ahli lain berpendapat, permainan kartu merupakan evolusi dari semacam upacara untuk berkomunikasi dengan para dewa. Empat batang tongkat atau panah yang sudah ditandai dengan empat simbol berbeda, dilemparkan ke atas altar. Tongkat mana yang jatuh, itulah yang diinterpretasikan sang pendeta sebagai titah dewa. Dalam permainan ini, pemain ditugaskan menyusun kartu-kartu yang dimiliki agar menjadi sebuah kalimat atau memainkan kartunya untuk meneruskan kalimat pemain lawan yang belum selesai, bisa di awal atau di akhir susunan kartu (http://id.wikipedia.org/wiki/Kartu_remi).

Berdasarkan pengertian di muka dapat disimpulkan bahwa kartu adalah kertas yang berbentuk kotak dengan ukuran tertentu. Penggunaan kartu dalam pembelajaran banyak manfaatnya, antara lain: melatih anak mematuhi aturan, sportifitas, disiplin, melatih anak dalam menganalisis masalah secara sederhana, dan berteman.

6.3 Teknik Memainkan

Permainan dapat dimainkan oleh empat pemain atau lebih, dengan jumlah kartu 60 lembar setiap setnya. Jumlah ini dapat saja ditambah atau dikurangi. Di kartu tertulis satu kosa kata dalam Bahasa Indonesia, yaitu sebuah penggalan-penggalan kalimat yang telah diatur sehingga jika kartu dimainkan dengan benar akan terbentuk suatu kalimat Bahasa Indonesia yang benar. Kartu-kartu tersebut terbuat dari karton dengan ukuran 5 x 8 cm. Ukuran ini dapat saja disesuaikan dengan selera pembuat kartu. Namun yang paling penting dengan permainan kartu berantai (Chain Card Game) ini sangat diminati para siswa. Mereka tidak lagi takut salah membuat kalimat. Semua siswa aktif dalam mengikuti belajar bahasa. Banyak upaya guru yang dilakukan dalam meningkatkan motivasi belajar siswa dan salah satunya adalah menggunakan permainan kartu berantai.

BAB III

METODOLOGI PENELITIAN
  1. A. Tempat Penelitian

Penelitian Tindakan Kelas ini dilakukan di SDN ********khususnya dilaksanakan di kelas **** semester ** tahun ajaran ********. Sekolah ini terletak di pinggiran ********, mempunyai 6 kelas, yaitu: kelas 1, 2, 3, 4, 5, dan 6. Jarak dari kecamatan sampai ke lokasi harus menempuh sejauh kira-kira ****** kilometer. Tempat tinggal siswa berjarak kira-kira antara **** hingga***** kilometer, mereka datang ke sekolah dengan *****************. Jumlah referensi buku pelajaran bahasa Indonesia masih dirasakan kurang.

  1. B. Subyek Penelitian

Subyek penelitian siswa kelas **** SDN ***************** tahun ajaran *******. Dengan jumlah****murid. Murid laki-laki berjumlah **** dan murid perempuan berjumlah ****.

  1. C. Data dan Sumber Data

Sumber data adalah siswa kelas **** SDN ***** dan tim peneliti. Jenis data yang digunakan adalah data kualitatif. Data kualitatif berasal dari hasil pengamatan siswa dalam mengikuti pembelajaran Bahasa Indonesia melalui permainan kartu.

  1. D. Teknik Pengumpulan Data

Pertama diadakan tes awal untuk mendapatkan data pendukung yang akurat sehingga mempunyai dasar yang kuat untuk melaksanakan penelitian. Langkah selanjutnya adalah menyiapkan segala perangkat yang akan digunakan selama penelitian berlangsung, seperti pembuatan perangkat pembelajaran, Rencana Pembelajaran, Lembar Kerja Siswa untuk setiap pertemuan, dan beberapa instrumen lain seperti lembar tes, observasi, analisis, pedoman wawancara, catatan lapangan dan kartu Chain Card Game.

  1. E. Teknis Analisis data

Data dianalisis berdasarkan perubahan setiap siklus tentang keterampilan siswa dalam membuat kalimat yang runtut. Hasil analisis refleksi pertama, yang berasal dari jurnal dan observasi kelas digunakan sebagai acuan untuk menentukan tahapan siklus berikutnya. Siklus berikutnya diharapkan ada peningkatan/perubahan tingkah laku maupun kreatifitas dalam hal membuat kalimat.

F. Rancangan Penelitian

  1. 1. Perencanaan Awal

Penelitian Tindakan Kelas pada tahap perencanaan awal dilakukan dengan 3 siklus selama semester pertama. Siklus pertama dilakukan dalam 3 jam pelajaran, dengan tema Tumbuhan. Siklus kedua dilakukan dalam 3 jam pelajaran, dengan tema Tumbuhan. Siklus ketiga dilakukan dalam 3 jam pelajaran sehingga seluruhnya berjumlah 9 jam pelajaran. Penelitian ini diharapkan setiap siklus terjadi perubahan yang ingin dicapai.

  1. 2. Perencanaan Tindakan

Perencanaan tindakan dilakukan dengan membuat segala sesuatu yang diperlukan seperti: Perangkat Pembelajaran (RP), Lembar Kerja Siswa (LKS) mini, kartu Chain Card Game sebanyak 7 set, dan beberapa instrument pendukung seperti: tes, observasi dan wawancara. Dalam perencanaan tindakan ini peneliti akan membuat skenario pembelajaran yang dituangkan dalam RPP.

  1. 3. Pelaksanaan Tindakan

Pelaksanaan tindakan dilakukan oleh guru kelas **** dengan berkolaborasi dengan guru kelas **** dan kelas *****. Hal ini dilakukan karena peneliti ingin mengetahui perkembangan sebelum naik kelas ****, mengenai bagaimana hasil belajar dan keterampilan dalam keterampilan berbahasa. Penelitian ini dilakukan pada semester*****.

  1. 4. Observasi

Observasi terhadap dampak tindakan dilakukan secara kontinyu dan dengan berbagai cara. Berarti dilakukan secara terus-menerus, baik dalam proses pembelajaran maupun pada hasil belajar. Proses pengamatan terutama ditujukan pada perkembangan pemahaman siswa dengan acuan respon siswa terhadap pertanyaan-pertanyaan, pemahaman dan atau kemungkinan siswa berpartisipasi dalam diskusi-diskusi atau pemecahan masalah.

5. Refleksi

Peneliti melakukan analisis data mengenai proses, masalah, dan hambatan yang dijumpai dan dilanjutkan dengan refleksi terhadap dampak pelaksanaan tindakan yang dilaksanakan. Hal ini dilakukan agar pada siklus selanjutnya hambatan yang dihadapi berkurang.

DAFTAR PUSTAKA

(Maaf tidak lulus sensor)

No comments:

Post a Comment

Post a Comment